Jurus HP Capital Mengeluarkan Saham LUCY dari Radar HSC

Muhammad Brian Abdillah · October 10, 2026 · 4 menit baca · Diperbarui October 16, 2026

LUCY masuk daftar HSC dengan konsentrasi 95,47%, lalu keluar dalam tiga bulan. Hampir semua perpindahan sahamnya lewat satu pintu: broker HP.

BagikanWhatsAppTelegramX

Pada 2 April 2026, LUCY jadi nama pertama di daftar saham terkonsentrasi BEI: 95,47% sahamnya dipegang segelintir pihak. Tiga bulan kemudian, 2 Juli 2026, LUCY juga jadi yang pertama keluar dari daftar itu. Di antara dua tanggal tersebut ada satu transaksi besar, dan hampir semuanya lewat satu pintu: Henan Putihrai Sekuritas dan kendaraan investasinya, HP Capital Resources.

Yang menarik bukan hasilnya, tapi caranya. Jurusnya ada dua, dan yang kedua baru kelihatan setelah status HSC dicabut.

Kenapa daftar HSC itu merepotkan?

LUCY170-83,57%
03/31/2026 s.d. 10/09/2026

Sejak 10/09/2026: -34,12% (penutupan 112 per 10/26/2026)Chart terbaru LUCY

HSC bukan sanksi. Tapi saham yang masuk daftar ini tidak bisa jadi anggota indeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80, dan namanya terpampang sebagai saham yang harganya gampang digerakkan. Untuk saham yang baru naik dari Rp 580 ke Rp 2.290 dalam tujuh minggu, label itu jelas tidak enak.

Jalan keluarnya cuma satu: kepemilikan harus menyebar. Masalahnya, per akhir Mei pengendali (PT Delta Wibawa Bersama) memegang 59,42% dan Dimas Wibowo 25,32%. Berdua saja sudah 84,74%.

Jurus pertama: 25% dipecah jadi enam

Pada 17 Juni 2026, Delta melepas 378,69 juta saham di Rp 1.385, kira-kira Rp 524 miliar. Seluruhnya di pasar nego broker HP. Berdasarkan register KSEI 30 Juni, berikut adalah kungfunya:

Pemegang baru

Saham

Porsi

PT Sentosa Bersama Mitra

75.000.000

4,95%

HP Capital Resources

71.069.516

4,69%

PT Nusantara Jaya Kulina

70.000.000

4,62%

PT Pijar Investasi Nusantara

70.000.000

4,62%

Ferry Sudjono

60.000.000

3,96%

PT Tata Tirta Datun

31.150.757

2,06%

Enam nama, tidak ada satu pun yang menyentuh 5%. Yang terbesar berhenti di 4,95%.

Dua minggu kemudian, BEI dan KSEI mengumumkan LUCY tidak lagi berstatus HSC, berdasarkan data kepemilikan 29 Juni.

Ada satu hal yang mengganjal. Kalau porsi semua pemegang di atas 1% dijumlahkan, angkanya 93,54% pada akhir Mei dan 93,24% pada akhir Juni. Nyaris tidak bergerak. Saham belum dibuang ke publik; ia baru pindah dari satu nama ke enam nama. BEI sendiri tidak mengungkap tingkat konsentrasi LUCY setelah status dicabut.

Jurus kedua: dikumpulkan lagi, baru dilempar ke market

Setelah status dicabut, harga LUCY jatuh dari Rp 1.665 (17 Juni) ke Rp 244 (31 Juli). Lalu enam nama tadi mulai menghilang.

Pada Agustus, tiga di antaranya (Sentosa, Nusantara Jaya Kulina, Pijar) lenyap dari register. Di waktu yang sama HP Capital memborong sampai memegang 20,86%, lagi-lagi lewat nego di broker HP. Pada 24 Agustus HP Capital mengambil 15% lagi dari Delta di Rp 300, dan tiga hari kemudian sudah melepas 265 juta saham.

Baru di tahap inilah saham benar-benar dibuang ke publik. Pada 26 Agustus sampai 11 September, satu broker ritel menyerap bersih 1.006.944 lot di papan reguler. Pada 10 September, 785.961.800 saham berpindah tangan dalam sehari, lebih dari separuh seluruh saham LUCY.

Hasilnya?

Register KSEI

Total pemegang di atas 1%

Pengendali + Dimas Wibowo

29 Mei 2026

93,54%

84,74%

30 Juni 2026

93,24%

59,74%

31 Agustus 2026

71,03%

44,74%

30 September 2026

55,17%

44,74%

Arahnya jelas: status HSC dicabut di baris kedua, sementara bagi-bagi saham yang sesungguhnya baru terjadi di baris ketiga dan keempat.

Total nego yang lewat broker HP untuk semua ini: 3,94 juta lot pada Juni, 2,73 juta lot pada Juli sampai pertengahan Agustus, dan 4,21 juta lot pada akhir Agustus.

BEI mengevaluasi daftar HSC tiap tiga bulan. Evaluasi berikutnya layak ditunggu, bukan karena LUCY mungkin masuk lagi, tapi karena kasus ini memperlihatkan sebuah gap: memecah satu blok besar ke beberapa nama di bawah 5% ternyata cukup untuk lolos, bahkan sebelum satu lembar pun sampai ke publik.

Saham di artikel ini

Perubahan harga penutupan sejak artikel ini terbit.

BagikanWhatsAppTelegramX

Artikel ini adalah riset untuk edukasi, bukan rekomendasi beli atau jual. Keputusan dan risiko investasi tetap di tangan kamu.

Artikel lainnya