IHSG Turun 1,22% ke 5.373, Asing Net Sell Rp 2,03 Triliun di Sesi Ketujuh
Muhammad Brian Abdillah · October 27, 2026 · 5 menit baca
IHSG turun 1,22% ke 5.373,09 pada 26 Oktober 2026. Asing net sell Rp 2,03 triliun, sesi ketujuh beruntun, saat domestik menyerap rebound.

Asing net sell Rp 2,03 triliun di papan reguler pada Senin, 26 Oktober 2026. Itu sesi ketujuh berturut-turut sejak IHSG longsor 11,57% pada 16 Oktober, dan kali ini indeks ikut turun 1,22% ke 5.373,09, memutus tiga hari naik. Yang mengganjal: sejak penutupan 19 Oktober di 4.996,61, IHSG sudah naik 7,53%, sementara asing net sell Rp 7,78 triliun dalam lima sesi sesudahnya. Kalau asing tidak ikut naik, siapa yang menggerakkan rebound ini, dan seberapa jauh tenaganya?
Rebound mentok di dekat 5.455
IHSG dibuka di 5.442,30, sempat kembali ke area 5.400, lalu turun tajam menjelang pukul 10.00 WIB sampai 5.349,75 dan bergerak mendatar di kisaran 5.360 sampai 5.390 pada sesi kedua. Puncaknya sempat 5.453,65, nyaris menyamai high 23 Oktober di 5.455,21. Penutupan di 5.373,09 hanya 0,44% di atas titik terendah.
Nilai transaksi indeks di data kami Rp 14,98 triliun, turun 7,4% dari 23 Oktober (Rp 16,18 triliun) dan yang terendah sejak 16 Oktober, saat angkanya Rp 32,00 triliun. Lebih dari 500 saham melemah. Kapitalisasi pasar tercatat Rp 9.453,49 triliun.
Net sell asing membesar tiga sesi berturut-turut
Dua dari tiga sesi itu IHSG justru naik. Net sell asing melebar dari Rp 0,53 triliun pada 21 Oktober ke Rp 2,03 triliun pada 26 Oktober, sementara indeks sempat menambah 1,12% dan 0,95%.
Tanggal | IHSG | Net asing (Rp triliun) |
|---|---|---|
20 Okt | 5.278,89 (+5,65%) | -2,13 |
21 Okt | 5.328,36 (+0,94%) | -0,53 |
22 Okt | 5.387,91 (+1,12%) | -1,47 |
23 Okt | 5.439,26 (+0,95%) | -1,62 |
26 Okt | 5.373,09 (-1,22%) | -2,03 |
Pada 26 Oktober asing buy Rp 3,25 triliun dan sell Rp 5,28 triliun. Domestik net buy Rp 2,03 triliun, persis sebesar net sell asing, karena setiap transaksi punya dua sisi. Sejak 14 Oktober hanya 15 Oktober yang berbalik net buy (Rp 520 miliar). Kalau ditarik sampai 18 September, hitungan kami menunjukkan net sell kumulatif Rp 24,67 triliun dalam 27 sesi.
Satu catatan: arus asing ini dihitung di papan reguler, sedangkan nilai transaksi indeks mencakup papan lain. Dua angka itu tidak bisa saling dibagi.
BMRI dan TLKM dilepas besar, harganya tetap bertahan
Angka per saham di bawah memakai 12 broker asing yang kami pantau, papan reguler, 26 Oktober. Ini sampel, bukan seluruh transaksi asing, jadi jangan dijumlahkan dengan net sell Rp 2,03 triliun di atas.
Saham | Net (lot) | Net (Rp miliar) |
|---|---|---|
BMRI | -1.024.475 | -396,0 |
TLKM | -1.375.144 | -307,9 |
BBCA | -467.875 | -232,7 |
BBRI | -418.179 | -120,3 |
ITMG | -32.986 | -84,1 |
BRIS | +285.390 | +29,9 |
EMAS | +17.713 | +11,3 |
AADI | +7.539 | +8,6 |
MEDC | +55.880 | +8,1 |
SMGR | +47.064 | +6,9 |
Timpang. Delapan saham teratas di sisi sell totalnya Rp 1,30 triliun, delapan di sisi buy cuma Rp 81,5 miliar.
Net sell BMRI di sampel ini setara sekitar 45% volume harian BMRI, TLKM sekitar 53%. Tapi BMRI naik 0,26% ke 3.910 dan TLKM naik 0,45% ke 2.250. Seller sebesar itu seharusnya menekan harga; yang terjadi, ada buyer yang menyerap. Siapa mereka tidak bisa dibaca dari 12 broker ini. Yang bisa kami pastikan hanya di level pasar: domestik net buy Rp 2,03 triliun.
Di sisi buy, cuma BRIS yang menonjol: Rp 29,9 miliar, sekitar 25% volume hariannya, dan harganya naik 3,43% ke 1.055. Sisanya di bawah Rp 12 miliar.
BBCA tertinggal dari dua bank besar lain
Saham | Tutup 26 Okt | 26 Okt | vs 15 Okt | vs tutup 19 Okt |
|---|---|---|---|---|
BBCA | 4.940 | -1,69% | -18,68% | +2,49% |
BMRI | 3.910 | +0,26% | -1,76% | +16,37% |
BBRI | 2.910 | 0,00% | -6,13% | +14,57% |
BBCA tutup di harga terendah hariannya, 4.940, dan hanya 2,49% di atas penutupan 19 Oktober. BMRI hampir kembali ke level 15 Oktober, hari terakhir sebelum longsor; BBCA masih 18,68% di bawahnya. Bisnis.com memasukkan BBCA bersama CUAN, BUMI dan ANTM sebagai saham yang menyeret IHSG.
Keuangan paling ringan, infrastruktur paling dalam
Semua 11 sektor melemah, dengan infrastruktur paling dalam. Keuangan turun paling kecil.
Sektor | 26 Okt | Sejak 15 Okt |
|---|---|---|
Keuangan | -0,56% | -5,01% |
Properti | -0,99% | -5,70% |
Konsumer non-siklikal | -1,01% | -7,90% |
Kesehatan | -1,07% | -11,48% |
Konsumer siklikal | -1,53% | -9,48% |
Barang baku | -1,57% | -11,24% |
Transportasi | -1,58% | -4,42% |
Industri | -1,87% | -9,73% |
Teknologi | -2,06% | -10,73% |
Energi | -2,36% | -7,98% |
Infrastruktur | -2,47% | -10,33% |
Dibanding 15 Oktober, luka paling dalam ada di kesehatan, barang baku dan teknologi. Transportasi justru yang paling dangkal, -4,42%.
Apa yang disebut media
Kami tidak menemukan satu pemicu yang bisa dibuktikan. Yang tertulis adalah beberapa faktor sekaligus: aksi ambil untung setelah rebound pekan lalu, rupiah yang melemah sekitar 0,2% ke Rp 18.127 per dolar AS, yield SUN tenor 10 tahun yang naik ke 7,46%, harga minyak Brent di sekitar US$ 114,50 per barel, dan sikap hati-hati menjelang keputusan The Fed. Angka rupiah dan Brent datang dari satu artikel Kontan yang merangkum pandangan analis BRI Danareksa Sekuritas, Bumiputera Sekuritas dan Phintraco Sekuritas. Konsultasi MSCI soal status pasar modal Indonesia masih jadi latar belakangnya.
Yang perlu dipantau
Rabu 28 Oktober: keputusan The Fed. Setelah itu ECB pada 29 Oktober dan BOJ pada 30 Oktober.
Net asing sesi kedelapan: apakah masih di atas Rp 2 triliun atau turun ke bawah Rp 1 triliun.
BBCA dan penutupan 19 Oktober di 4.820, batas bawah pantulannya sejauh ini.
Baca juga: recap 23 Oktober
Saham di artikel ini
Artikel ini adalah riset untuk edukasi, bukan rekomendasi beli atau jual. Keputusan dan risiko investasi tetap di tangan kamu.


