Masuk

PPRI: Rights Issue yang Belum Datang, Dirut yang Terus Jualan

Muhammad Brian Abdillah · October 3, 2026 · 6 menit baca

Saham PPRI kembali ke harga IPO. Rights issue untuk akuisisi pabrik belum ada jadwalnya, sementara Direktur Utamanya sudah tiga kali menjual saham.

BagikanWhatsAppTelegramX

Saham PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI) ditutup di Rp139 pada 30 September 2026, satu rupiah di bawah harga IPO-nya, Rp140, tiga tahun lalu. Setahun sebelumnya, orang dalam masih bisa menjual saham ini di kisaran Rp392.

Di antara dua angka itu ada satu janji yang belum terwujud dan satu pola yang terus berulang. Janjinya: rights issue untuk membeli pabrik kemasan, yang disebut manajemen akan dilakukan pada 2026. Polanya: Direktur Utama yang mengumumkan rencana itu sudah tiga kali tercatat menjual sahamnya sendiri.

Kali ini kita akan membedah bisnis PPRI, siapa yang sekarang memegang kendali, dan event apa saja yang layak buat ditunggu.

Bisnisnya: distributor, bukan pabrik

PPRI menjual kemasan kertas food grade untuk restoran dan kafe: paper cup, bowl, wrap, dan paper bag. Perusahaan berdiri pada 2011 dan melantai di bursa pada Agustus 2023 (profil perusahaan).

Yang penting dipahami: sampai hari ini PPRI pada dasarnya berdagang, bukan memproduksi. Direktur Utamanya sendiri mengakui perseroan ingin berhenti sekadar trading dan mulai membuat kemasan sendiri (IQPlus). Itu menjelaskan margin yang tipis.

Pertumbuhannya juga sudah melambat tajam:

  • 2024: penjualan naik 38,48% menjadi Rp147,6 miliar, laba berlipat dua menjadi Rp4,5 miliar (Investor.id).

  • 2025: penjualan hanya naik 4,9% menjadi Rp154,8 miliar, laba kotor nyaris tidak bergerak di Rp23,7 miliar (Kontan).

  • 2026: target kuartal II hanya tumbuh 2,7% untuk penjualan dan 5,07% untuk laba berjalan, yaitu Rp1,89 miliar (EmitenNews).

Laba 2025 seluruhnya ditahan untuk memperkuat modal, jadi tahun ini tidak ada dividen (Pluang).

Valuasinya tidak murah

Harga yang sudah turun jauh belum membuat saham ini murah. Per Juli 2026, PPRI diperdagangkan di PE trailing sekitar 70 kali, PBV 1,66 kali, dan EV/EBITDA 27 kali (StockAnalysis).

Untuk distributor dengan margin bersih di bawah 2%, angka itu hanya masuk akal kalau pasar sedang membayar sesuatu di luar bisnis yang ada sekarang. Sesuatu itu adalah cerita transformasi menjadi produsen.

Di harga Rp139, kapitalisasi pasarnya sekitar Rp151,6 miliar (Investing.com). Ini emiten kecil dengan porsi publik sekitar 24%, sehingga harganya mudah bergerak tajam dengan nilai transaksi yang tidak besar.

Ganti pengendali, dengan harga masuk Rp50

Cerita transformasi itu dimulai pada Agustus 2025. Catur Jatiwaluyo, pendiri sekaligus Direktur Utama saat itu, menjual sahamnya untuk persiapan pensiun. Pembelinya dua nama: Budi Aditya Erna Mulyanto, pendiri Remala Abadi (DATA), dan Irsyad Hanif, Komisaris Utama Aman Agrindo (GULA) (Bisnis.com).

Harga transaksinya jauh berbeda. Budi membeli 97,17 juta saham di Rp159. Irsyad mengambil sahamnya di harga transaksi Rp50 per saham (Kontan). Angka Rp50 ini penting untuk membaca bagian berikutnya.

Dua bulan kemudian, RUPSLB 13 Oktober 2025 mengangkat Irsyad sebagai Direktur Utama dan Budi sebagai Komisaris. Catur bergeser menjadi Direktur (VOI).

Komposisi pemegang saham yang tercatat sekarang: Philip Sumali 26,05%, Dillon Sutandar 20%, Irsyad Hanif 16,26%, Budi Aditya 13,69%, dan publik sekitar 24% (Pluang). Angka Irsyad dan Budi kemungkinan belum mencerminkan penjualan September 2026.

Dirut yang terus jualan

Sejak menjadi pemegang saham besar, Irsyad Hanif sudah tiga kali tercatat mengurangi kepemilikannya, setiap kali di harga yang lebih rendah.

Waktu

Jumlah saham

Harga per saham

Kepemilikan setelahnya

Sumber

September 2026

14,88 juta (Rp2,78 miliar)

sekitar Rp187*

sekitar 14,9%*

CNBC Indonesia

Februari 2026

7 juta

Rp300

16,26%

Ipotnews

Oktober 2025

11 juta

sekitar Rp392

16,91%

EmitenNews

*Hitungan saya dari nilai dan jumlah saham yang dilaporkan, bukan angka official.

Dengan modal Rp50 untuk sebagian besar posisinya, ketiga penjualan itu tetap profit besar, bahkan di harga terendah. Penjualan pertama terjadi sepekan sebelum RUPSLB yang mengangkatnya menjadi Direktur Utama.

Ada dua detail lain. Pada September 2026 yang sama, Irsyad justru membeli 20 juta saham GULA di Rp364. Budi Aditya juga tercatat mengurangi kepemilikannya di PPRI pada 14 September 2026.

Penjualan orang dalam tidak otomatis berarti buruk. Tujuan yang dilaporkan adalah divestasi, dan seseorang boleh taking profit. Tetapi pola ini masuk akal karena orang yang sama sedang menyiapkan aksi korporasi yang akan meminta pemegang saham publik menyetor uang baru.

Event yang layak ditunggu

1. Rights issue. Usai RUPSLB Oktober 2025, Irsyad menyebut rights issue sebagai aksi korporasi yang paling dekat untuk 2026, tanpa menyebut jadwal maupun jumlah saham (IQPlus). Sampai awal Oktober 2026 saya sendiri belum menemukan pengumuman RUPSLB untuk agenda ini. Prosesnya butuh persetujuan RUPS lalu pernyataan efektif OJK, jadi dengan sisa tiga bulan, eksekusi di 2026 terlihat ketat. Manajemen sendiri pernah membuka kemungkinan satu sampai dua tahun ke depan (VOI).

2. Akuisisi pabrik kemasan. Dana rights issue direncanakan untuk membeli perusahaan kemasan yang sudah beroperasi. Kontan juga pernah memberitakan rencana masuk ke segmen bungkus rokok (Kontan). Ekuitas PPRI sekitar Rp96 miliar, sehingga akuisisi di atas kira-kira Rp19 miliar sudah tergolong transaksi material menurut POJK 17/2020. Jika targetnya terkait dengan pengendali baru, aturan transaksi afiliasi di POJK 42/2020 ikut berlaku.

3. Laporan keuangan kuartal III/2026. Batas penyampaiannya akhir Oktober. Laporan ini akan menunjukkan apakah target tumbuh 5% tercapai atau meleset.

4. Laporan kepemilikan berikutnya. Setiap perubahan kepemilikan direksi dan komisaris wajib dilaporkan. Apakah pola jual berlanjut atau berhenti menjelang rights issue adalah sinyal tersendiri.

5. Pengawasan bursa. BEI sudah pernah mencermati pergerakan saham ini pada Maret 2026 (Pluang). Pengumuman UMA atau suspensi bisa muncul lagi kalau harga bergerak tajam.

Empat pertanyaan sebelum ikut rights issue

Kalau prospektusnya keluar, ini yang akan saya cari lebih dulu.

  1. Siapa pembeli siaganya? Jika pemegang saham besar yang selama ini menjual tidak menebus haknya, dilusi dan tekanan harga jatuh ke publik.

  2. Berapa harga pelaksanaan dan rasionya? Harga pasar sudah di level IPO, jadi ruang diskonnya sempit. Rasio yang besar berarti dilusi berat bagi yang tidak menebus.

  3. Berapa harga target akuisisinya, dan siapa penjualnya? Laba PPRI hanya Rp2 sampai 3 miliar per tahun. Kualitas dan valuasi pabrik yang dibeli akan menentukan hampir seluruh nilai perusahaan setelahnya.

  4. Apakah bisnis intinya masih tumbuh? Transformasi lebih mudah dipercaya kalau bisnis lama tidak sedang melemah.

Penutup

PPRI hari ini adalah distributor kecil yang dihargai seperti perusahaan yang akan berubah. Perubahan itu bergantung pada rights issue dan akuisisi yang belum punya jadwal, harga, maupun nama target.

Sampai dokumen resminya terbit, data yang paling konkret justru laporan kepemilikan saham. Dan sejauh ini laporan itu menunjukkan pengendali barunya lebih sering jualan daripada koleksi.

Saham di artikel ini

BagikanWhatsAppTelegramX

Artikel ini adalah riset untuk edukasi, bukan rekomendasi beli atau jual. Keputusan dan risiko investasi tetap di tangan kamu.